Sekolah Mini FKIP, Kapan Ya?
Oleh Ratna Yuwinda
Suatu profesi memerlukan teori dan praktek yang lebih banyak daripada pekerjaan umum, ada beberapa keahlian yang harus di kuasai dahulu baru melakukannya. Tengoklah SMK 4, untuk memagangkan siswa terlebih dahulu pihak sekolah menggodok mereka di sekolah dalam hal ini melatih siswa sesuai jurusan di tempat kerja atau praktek mereka misalnya jurusan kecantikan di salon sekolah, Tata Boga di dapur sekolah, Perhotelan di penginapan sekolah, atau anak otomotif SMK 5 di bengkel sekolah, setelah di dalam sana mereka mantap baru di kirim keluar yakni link-link sekolah untuk magang atau praktek di tempat yang sesuai jurusan masing-masing sehingga ketika magang mereka benar-benar
mantap dan enjoy menikmati profesinya.
Let’s look at FKIP Unlam, suatu fakultas di bawah naungan Unlam yang di sebut-sebut memiliki mahasiswa paling banyak, adakah FKIP punya sarana seperti sekolah-sekolah diatas untuk keperluan mahasiswanya nanti? adakah FKIP punya sekolah di kampus? atau punya sekolah binaan tempat mahasiswanya latihan mengajar? Tanya saja mahasiswa FKIP tentu jawabannya Tidak! sayang sekali bukan?
Ruang microteaching yang di punyai FKIP pun baru setelah PPL I Tahun akademik 2006/2007 ada, itupun sampai sekarang tahun akademik 2007/2008 yang menggunakan bukan seluruh mahasiswa yang PPL II. Bayangkan saja sekolah menerima mahasiswa pendidikan yang jarang praktek mengajar di kampus, kalo tidak ingin di katakan tidak pernah. Mending jika semua memiliki kemampuan yang sama, tapi tentu ada perbedaan kemampuan satu sama lain, dan tidak ada jaminan semua mahasiswa yang PPL qualified untuk mengajar. Tapi hal ini kadang di tutup dengan laporan yang bagus di akhir PPL.
Jika saja mahasiswa PPL di tanya bagaimana sekolah PPL nya kadang kebanyakan berupa keluhan, bahkan ada siswa dari salah satu sekolah yang mengaku bahwa mereka berusaha menyulitkan mahasiswa yang PPL di kelas mereka, mereka mengusahakan agar si mahasiswa untuk sibuk menenangkan mereka sampai waktu belajar kemudian habis, sehingga transfer ilmu dan Renpel yang di buat tidak berarti apa-apa.
Tambahan umumnya Dewan Guru di sekolah beranggapan mahasiswa PPL sudah siap lahir batin ketika mengajar di sekolah, tapi bagaimana mahasiswa PPl siap manakala di kampus sendiri tidak ada sarana yang mendekati suasana sekolah yang akan di hadapinya pada waktu PPL? Sementara pihak kampus sudah cukup lega dengan mendelegasikan hal tesebut ke program studi dengan mata kuliah micro teaching –mengajar teman sekelas sendiri, yang mana siswa SMP / SMU dan teman kelas sendiri adalah dua variabel yang berbeda. Teman sendiri adalah pribadi dewasa yang sudah bisa menghargai orang, sementara objek yang nantinya di ajar belom tentu. Tantangan inilah yang selama ini di hadapi mahasiswa PPL, sehingga waktu mengajar sering kali terpotong untuk pendekatan kelas. Jika saja sudah di persiapkan sejak awal seperti halnya anak-anak SMK, tentunya materi atau pembelajaran akan lebih menyenangkan bagi semua pihak terkait, terlebih mahasiswa tidak akan tertekan.
Bukankah pada tahun akademik ini FKIP banyak menerima pemasukan keuangan? apabila memang berniat untuk memajukan pendidikan di Kalsel, tentunya akan ada pembaharuan dalam waktu dekat sehubungan dengan PPL II.
Jadi kapan FKIP membuat sekolah mini yang di bina sendiri untuk mahasiswanya latihan mengajar dengan suasana sekolah yang sama dengan yang nantinya akan di hadapi mahasiswa saat PPL II ?
Ingat pepatah berkata “bisa karena biasa” dan guru bukanlah pilihan terakhir, tapi sebuah profesi, serta hentikan memandang sebelah mata pada keguruan, Hidup Guru!!**
That all sir, i’ll send u the other next time, thanks b4
Blog ini didedikasikan oleh Ersis Warmansyah Abbas dalam upaya menggalakkan kegiatan menulis di kalangan ‘warga negara’ PSP Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin. Siapa pun dipersilahkan berpartisipasi sambil menayangkan karyanya. Tulisan bersifat bebas, karena memang dimaksudkan untuk memasihkan menulis. Jadi, tidak ada aturan ini-itu yang membelenggu. Bebas sebebas berpikir di tengkorak otak.
Yap, Bujur banar.
Kampus FKIP memang perlu improvisasi lebih, salah satunya ya dengan sekolah mini.
Harapannya dengan fasilitas ini cagur bisa lebih bagus kemampuannya.
“BIsa karena biasa” that’s cool
[...] Sekolah Mini FKIP, Kapan ya? [...]
Ping balik oleh Aku, FKIP Unlam, dan Kesenjangan « Zulfaisal Putera | 3 Maret 2008