PESANTREN KILAT DENGAN WAYANG KULIT
Oleh : Diah Ratna Wulan
Pada hari jum’at 28 sept 2007 Dalam berita Fokus Siang (12.00 wita) di IDOSIAR, ada suatu berita yang menarik perhatian saya, mengenai pesantren kilat yang diadakan di daerah Tegal. Di mushola Noorhidayah Tegal diadakan pesantren kilat selama bulan Ramadhan, yang menjadi keunikannya adalah adanya wayang kulit dalam mengisi pesantren tersebut yang di Dalangi Ki Ragil Suroso.
Pesantren kilat umumnya hanya ada dibulan Ramadhan dengan tujuan mempertebal keimanan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Umumnya pesantren kilat yang diadakan di sekolah-sekolah dilakukan selama 3 hari saja, tetapi di Tegal khususnya di mushola Noorhidayah dilakukan 1 bulan penuh dalam bulan Ramadhan. Di mushola ini selain ada pengajian Al-Qur’an, ceramah agma, pembelajaran cara berwudu dan sholat yang benar, juga sholat berjamaah, selain itu yang membuatnya menarik adalah adanya wayang kulit bernuansa Islami. Perwayangan ini juga pernah dilakukan oleh salah satu wali songo (9 wali), untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal inilah yang rupanya masih dilestarikan oleh Ki Ragil.
Bahasa yang digunakan dalam penyampaian pun bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh anak-anak peserta pesantren kilat.Cerita yang disampaikan masih sekitar dan seputar agama Islam, baik cerita tentang kepahlawanan yang pasti cerita yang mudah dimengerti dan juga memungkinkan untuk anak-anak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wayang kulit yang digunakan pun diwarnai dengan warna yang cerah sehingga mata anak-anak tidak terlalu cape untuk menyimak pertunjukannya, apalagi disampaikan dengan gaya bahasa yang jelas sehingga memudahkan anak-anak mengeri. Apabila suatu cerita disampaikan dengan alat peraga dapat menambah konsentrasi para penontonnya.
Dakwah atau cerita agama yang disampaikan dengan cara wayang ini juga dapat menarik minat anak-anak untuk mengikuti pesantren kilat. Hal ini juga membawa dampak lain yaitu selama liburan di bulan Ramadhan anak-anak dapat mengisi waktu dalam pesantren kilat selain mempertebal keimanan anak-anak juga dapat menyampaikan kebudayaan melalui seni perwayangan.
Pesantren kilat dengan gaya bermain wayang ini sangat unik dan menarik karena sebagai tokoh perwayangan juga dibuat seperti layaknya manusia biasa yaitu bentuk manusia seperti kakek-kakek atau wanita dan anak-anak tidak seperti wayang kulit lainnya seperti bentuk pandawa. Umumnya bentuk tokoh Semar, Petruk, Gareng dan Bagong yang mudah dikenali dan dibedakan oleh anak-anak. Bermain wayang ini tidak seperti biasanya yang menggunakan alat bantu lampu untuk bayang-bayangnya melainkan anak-anak dapat melihat langsung dengan cara duduk di belakang atau di samping Dalangnya, sehingga anak-anak dapat secara langsung belajar cara memainkan wayang tersebut.
Permainan wayang dalam pesantren kilat ramadhan ini selain dapat menyampaikan pesan moral juga sekaligus mengajarkan pada anak-anak sejak dini untuk mencintai kebudayaan sendiri.
Bahasa merupakan hal yang utama untuk penyampaikan informasi, hal ini pulalah yang rupanya sangat diperhatikan oleh Ki Dalang. Tentunya untuk anak-anak berbeda penyampaiannya dengan orang dewasa. Untuk anak-anak peserta pesantren kilat ini Ki Dalang menggunakan bahasa dan gaya bahasa yang mudah diterima dan dimengerti, serta senandung -senandung islam dan syair-syair yang dapat dipahami anak-anak, cerita yang disampaikan pun tidak pernah lepas dari pesan moral guna mendidik akhlak anak-anak peserta pesantren.
Dalam mengelola pesantren kilat di Mushola Noorhidayah ini rupanya tidak hanya Ki Dalang sendiri tetapi juga berkolaborasi dengan ustad pengurus mushola yang namanya tidak disebutkan. Jelas terlihat bahwa kolaborasi antara ustad dan Ki Dalang sangat membawa manfaat ketimbang sendiri-sendiri, anak-anak pun jadi lebih bergairah dalam mengikuti pesantren kilat.
Sayangnya tidak ditayangkan dengan jelas di berita Fokus Siang acara pesantren ini dimulai dan diakhirinya pada jam berapa dan anak-anak yang mengikutinya. Apa hanya masyarakat sekitar mushola atau dari sekolah-sekolah tertentu, yang jelas saat berita ini ditayangkan anak-anak begitu bergairah mengikuti pesantren ini, hal ini terlihat dari wajah-wajah ceria anak-anak tersebut. Ditambah lagi dengan adanya hiburan wayang kulit oleh Ki Dalang Ragil Suroso dan oleh bapak Ustad diajarkan cara-cara mengaji Al-Qur’an serta do’a-do’a pendek lainnya.
Saya sangat salut dengan apa yang dilakukan oleh Ki Dalang Ragil Suroso dengan bapak Ustad mushola Noorhidayah di Tegal, mereka berdua dapat dikatakan melestarikan cara penyampaian dakwah oleh sunan Kalijaga dalam penyebaran Islam dengan cara menyampaikan melalui kesenian pewayangan.
Belum ada komentar.
Blog ini didedikasikan oleh Ersis Warmansyah Abbas dalam upaya menggalakkan kegiatan menulis di kalangan ‘warga negara’ PSP Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin. Siapa pun dipersilahkan berpartisipasi sambil menayangkan karyanya. Tulisan bersifat bebas, karena memang dimaksudkan untuk memasihkan menulis. Jadi, tidak ada aturan ini-itu yang membelenggu. Bebas sebebas berpikir di tengkorak otak.